Selasa, 24 Juli 2012

Doa Mustajab Adalah Hak Kita



Mungkin kita berpikir, bahwa Doa yang Mustajab hanyalah diberikan kepada para WaliyuLlah (kekasih Allah). Sebenarnya, semua kita memiliki potensi doanya diistijabah oleh Allah SWT. Atau bahkan, kita semua punya potensi menjadi waliyuLlah. Menjadi waliyuLlah adalah obsesi setiap insan, karena waliyuLlah hidupnya tenteram dan bahagia. “Alaa inna auliyaa-Allaahi laa khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanunn” Ingatlah sesungguhnya para wali Allah tidak merasakan ketakutan dan keresahan. Surah Yusuf 62.
Bukanlah merupakan suatu kesalahan, jika kita ingin melihat kejaiban dalam hidup kita, untuk lebih meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan hari akhir. Nabi Isa as pun meminta kepada Allah diturunkan makanan dari langit, dan Nabi Ibrahim as meminta bukti keajaiban dan dibuktikan oleh Allah SWT ketika menghidupkan kembali burung yang telah dipotong-potong dan ditempatkan di empat penjuru angin. Bayangkan, keimanan dan spiritual hamba akan semakin kuat ketika keajaiban-keajaiban terjelma seiring lantunan do’a yang ia panjatkan kepada Penciptanya. Kisah nyata yang saya alami sendiri silakan dibaca di Doa Instan Diistijabah Allah SWT.
Allah semakin senang manakala hamba-Nya sering berdo’a, menjadikan Allah sebagai gantungan hidup tempat mengadu. Dan sebaliknya tentu Allah jengah kepada manusia lemah yang sok kuat mengandalkan kekuatan otot dan otaknya yang tidak ada apa-apanya, sehingga tidak pernah bersandar pada-Nya Zat Yang Maha Kaya, Penguasa dan Pemilik Alam Semesta. Allah SWT akan berlepas dari seorang manusia sombong yang tidak mau bergantung dan meminta pada-Nya, dan selanjutnya nasib hidup hamba sombong tersebut hanya akan ditentukan oleh otot dan otaknya sendiri.
Pertama, sadarilah bahwa makshiyat akan menghijab do’a. Itulah sebabnya mengapa do’a selalu diawali dengan istighfar dan taubat. Bahkan, istighfar ternyata berhubungan erat dengan rizki material, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Nuh 10-12 :
“Maka, aku berkata (kepada mereka): “beristighfarlah (mohon ampun) pada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu”
Perbanyak istighfar, jauhi makshiyat dan dosa. Maka lambat laun kita memiliki hati yang sensitif (hasasiyatul qolb). Ketika kita berbuat makshiyat atau lupa istighfar, terasa hati ini jauh dari Allah, dan do’a-do’a kita menjadi sulit diistijabah. Kalau sudah begini, dengan sendirinya secara otomatis kita akan takut berbuat dosa.

Doa Instan Diistijabah Allah SWT

Dengan izin Allah, saya telah mengalami berkali-kali kejadian, dimana do’a saya secara langsung dan instan diistijabah oleh Allah SWT. Semula, saya ingin menceritakan pada tulisan pertama Doa Mustajab adalah Hak Kita, untuk berbagi pengalaman, namun penulis masih merasa ragu untuk menceritakan. Setelah direnungkan, saya memutuskan untuk menceritakannya dengan harapan semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Pada sekitar bulan Maret 1999, saya berumroh pada asyrul awakhir (10 malam terakhir) bulan Ramadhan. Saat itu, suasana di Masjidil Haram tidak sepadat sekarang. Alhamdulillah, saya berhasil menempel di Multazam, suatu tempat yang mustajab untuk berdo’a yang terletak antara pintu Kabah dan Hajar Aswad. Saya mengalami satu perasaan, yang sangat sulit diceritakan. Saya merasa khusyu’ yang sangat dalam, serasa dekat sekali dengan Allah, suatu pengalaman ruhani yang tidak pernah atau jarang sekali saya alami. Saya merasa apapun yang saya minta pasti akan diistijabah oleh Allah SWT.
Waktu itu saya masih menjadi eksekutif di sebuah perusahaan swasta, dan usia saya baru 30 tahun, masih muda sekali. Wajar kalo permintaan saya sangat materialistis. Saya memohon kepada Allah untuk menjadi eksekutif termahal di Jakarta.
Pada bulan Mei 1999, saya menjalani saringan untuk menjadi direksi di sebuah perusahaan yang berkelas dan unik. Alhamdulillah, saya terpilih sebagai direksi bersamaan dengan eksekutif-eksekutif terkemuka. Dan saya dibayar Rp 60 juta sebulan take home pay, fasilitas kendaraan boleh memilih, dan fasilitas kesehatan yang luar biasa. Alhamdulillah, saya meminta kepada Allah bulan Maret dan Allah, Al-Mujibas-saailiin, mengabulkan tunai pada bulan Mei.
Saya ingin menceritakan kisah lainnya. Beberapa bulan yang lalu, saya melakukan kerjasama bisnis dengan sebuah perusahaan. Dan setelah dihitung hasil akhir dari pekerjaan, keuntungan buat saya adalah Rp 300 juta. Namun yang bisa saya terima sekarang hanya Rp 50 juta, sedangkan Rp 250 juta lagi menunggu restitusi pajak, yang mungkin baru keluar sekitar 4 bulan lagi, itupun jika berhasil
Di lain pihak, saya sangat membutuhkan dana segar saat itu untuk membiayai proyek lain. Saat shubuh saya berdo’a kepada Allah SWT dan pada saat berdo’a saya mendapatkan keyakinan bahwa do’a saya akan segera diistijabah Allah SWT. Pada siang harinya, saya bertemu dengan pihak perusahaan partner tersebut, dan ia membawa amplop coklat cukup tebal, yang isinya tidak mungkin hanya Rp 50 juta. Partner tersebut kemudian berkata, ” Pak, Agung, mungkin Bapak memerlukan dana saat ini. Saya ingin selesaikan saja semua, dan biar soal pajak saya urus dan tangani”, dan ia menyerahkan semuanya Rp 300 juta, Subhanallah.
Dan yang terakhir terjadi, minggu sore kemarin saya harus bertemu dengan partner saya di Mal Artha Gading. Ketika memasuki gedung parkir bawah tanah sudah mulai antri karena parkiran penuh. Lantas, saya segera berdo’a kepada Allah SWT, dengan optimis dan yakin agar segera diberikan parkir. Alhamdulillah, tidak sampai 10 detik kemudian, ada mobil di sebelah kanan saya akan keluar, dan kami dipersilahkan parkir disitu oleh tukang parkir.
Dari berbagai miracle yang saya alami, saya mencoba merumuskan, apa yang menyebabkan do’a diterima oleh Allah SWT. Ada 5 syarat do’a diistijabah Allah SWT, yaitu :
  1. Menjauhi ma’shiyat dan banyak istighfar
  2. Selalu Bersyukur
  3. Totalitas berdo’a
  4. Seni Berdo’a
  5. Meminta yang Kongkrit
Saya akan mencoba menjabarkan satu persatu, pada tulisan selanjutnya. Saudara sekalian, silakan sharing jika Anda memiliki pengalaman serupa. HadanaLlohu wa iyyakum ajma’in.

Seni Berdo’a

Pada suatu kesempatan, saya berkata pada teman-teman di kelompok taklim saya. “Saudara sekalian, insya Allah, jika proyek saya di bidang tracking transportasi ini berjalan lancar, maka kita semua akan umrah bareng. Mari kita sama-sama berdo’a agar bisa umrah bareng tahun ini”.
Maka seluruh anggota taklim akan berdo’a agar bisa umrah bareng. Dengan banyaknya orang berdo’a, maka insya Allah do’a kolektif ini akan diistijabah oleh Allah SWT. Jika do’a umrah bareng ini diistijabah, artinya proyek tracking transportasi saya berjalan lancar. Sampai saat ini progressnya berjalan lancar, Alhamdulillah. Mohon do’anya dari Anda semua.
Jika kita ditanya, apakah kita yakin bahwa Allah Maha Kaya, Maha Pemberi Rizki, Allah memiliki semua yang ada di langit dan di bumi, dan Allah berkuasa atas segala sesuatu? Saya yakin, kita semua akan menjawab kita yakin dan beriman. Pertanyaan lanjutannya adalah, pernahkah kita minta menjadi orang terkaya di dunia? Dengan menjadi orang terkaya di dunia, kita bisa banyak beramal, berdakwah, untuk umat, bangsa dan kemanusiaan. Ataukah mungkin dalam hati kecil kita, ada sedikit kesangsian bahwa Allah mampu memberikan semua itu untuk kita? Sehingga kita enggan berdo’a seperti itu.
Saya yakin, jika Allah berkehendak, dengan mudah bisa menjadikan saya orang terkaya di dunia. Maka saya berdo’a dan berharap. Bentuk do’a yang sering saya lantunkan adalah: “Ya Allah, jadikanlah saya sebagai penyandang dana dan donatur bagi dakwah dalam meninggikan Kalimat-Mu….”. Jika Allah mengistijabah, dan kita menjadi donatur dalam amal-amal kebaikan, maka otomatis kita menjadi orang kaya. Insya Allah, setelah kita diistijabah menjadi orang kaya, kita akan mengingat do’a yang pernah kita lantunkan ini, sebagai janji yang harus kita penuhi.
Seorang teman menyampaikan pengalamannya dalam berdo’a. Teman ini sudah berada di kursi ujian, namun ia belum sempat mempelajari pelajaran yang diujikan, karena hari-hari sebelumnya sibuk melaksanakan proyek training. Sedangkan, mata kuliah ini adalah mata kuliah keahlian (MKK) yang harus lulus.
Menghadapi hal demikian, ia berdo’a dengan cara bertawasul dengan amal shalih. Ia ingat beberapa amal shalih yang ia lakukan ikhlas karena Allah, dan ia berdo’a, “Ya Allah…, jika amalku tadi ikhlas semata-mata karena-Mu ya Allah, mudahkanlah aku dalam menjawab soal-soal ujian ini”. Dan, Alhamdulillah, ia dapat menjawab semua soal dengan mudah dan ia mendapatkan nilai A dalam ujian tersebut.
Cukup banyak seni-seni berdo’a yang dicontohkan oleh para ulama salaf terdahulu. Yang jelas, berdo’a harus dengan seluruh perasaan kita, khoufan wan thoma’an, penuh harap dan cemas. Insya Allah do’a kita pasti diistibah oleh Al Mujibas Saailin.
Dalam suatu sessi, saya sharing tentang pengalaman berdo’a seperti yang dibahas disini, dan diantara yang hadir ada Ustadz background syar’ie. Beliau mengatakan bahwa semua yang saya terangkan tadi ada rujukan literaturnya dan telah banyak dibahas oleh ulama-ulama terdahulu.
SubhanaLlah….


Semoga bermanfaat.

http://agungyulianto.net/

0 komentar:

Poskan Komentar